KARAKTERISTIK HIPERPIGMENTASI RONGGA MULUT PADA PEROKOK AKTIF BAIK KONVENSIONAL MAUPUN ELEKTRONIK DI RUMAH SAKIT MURNI TEGUH TUBAN BALI

DILUHUR, A.A GD DHARMA (2025) KARAKTERISTIK HIPERPIGMENTASI RONGGA MULUT PADA PEROKOK AKTIF BAIK KONVENSIONAL MAUPUN ELEKTRONIK DI RUMAH SAKIT MURNI TEGUH TUBAN BALI. Other thesis, Universitas Mahasaraswati Denpasar.

[thumbnail of Bab I-II] Text (Bab I-II)
861.FKG (2106122010041)-18-55.pdf - Other

Download (516kB)
[thumbnail of Full Text] Text (Full Text)
861.FKG (2106122010041).pdf - Other
Restricted to Registered users only

Download (3MB)

Abstract

Merokok merupakan masalah kesehatan global dengan prevalensi tinggi, terutama di Indonesia. Perilaku merokok tidak hanya berdampak sistemik tetapi juga menimbulkan kondisi patologis di rongga mulut, seperti hiperpigmentasi gingiva akibat paparan bahan kimia berbahaya. Rokok konvensional, khususnya kretek, berdampak signifikan terhadap rongga mulut, seperti hiperpigmentasi gingiva. Rokok elektronik, meskipun dianggap lebih aman, juga tetap berpotensi menyebabkan hiperpigmentasi. Studi ini bertujuan membandingkan hiperpigmentasi pada perokok konvensional dan elektronik. Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan desain potong lintang (cross- sectional) yang dilakukan di Rumah Sakit Murni Teguh Tuban Bali pada bulan Oktober hingga November 2024. Sebanyak 48 subjek, terdiri dari 24 perokok konvensional dan 24 perokok elektronik, dipilih menggunakan metode consecutive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara dan pemeriksaan langsung, mencakup usia, jenis kelamin, indeks massa tubuh (IMT), tingkat pendidikan, lama merokok, jumlah rokok per hari, jenis rokok, dan durasi penggunaan rokok elektronik. Analisis data dilakukan menggunakan uji statistik deskriptif dan analisis perbandingan proporsi dengan bantuan perangkat lunak SPSS versi 26. Penelitian menunjukkan bahwa hiperpigmentasi rongga mulut terjadi pada 95,8% perokok konvensional dan 54,3% perokok elektronik dengan perbedaan yang signifikan (p=0,001). Risiko hiperpigmentasi pada perokok konvensional 7,7 kali lebih tinggi dibandingkan perokok elektronik. Perokok konvensional yang menggunakan rokok kretek memiliki derajat hiperpigmentasi lebih tinggi (derajat 3-4) dibandingkan rokok putih (p=0,009). Lama merokok ≥ 5 tahun meningkatkan risiko hiperpigmentasi secara signifikan (RR 1,4; p=0,043), sedangkan jumlah rokok/hari dan durasi penggunaan rokok elektronik tidak menunjukkan perbedaan bermakna terhadap kejadian hiperpigmentasi. Hiperpigmentasi rongga mulut lebih sering terjadi pada perokok konvensional dibandingkan perokok elektronik, dengan derajat yang lebih berat pada pengguna rokok kretek. Lama merokok menjadi faktor signifikan dalam meningkatkan risiko hiperpigmentasi, sementara jumlah rokok dan durasi penggunaan rokok tidak menunjukkan pengaruh bermakna.

Item Type: Thesis (Other)
Additional Information: R/861/FKG
Uncontrolled Keywords: Hiperpigmentasi rongga mulut, perokok konvensional, perokok elektronik, rokok kretek, lama merokok, risiko kesehatan
Subjects: F. KEDOKTERAN GIGI (Dentistry) > Kesehatan Gigi dan Mulut
Divisions: Fakultas Kedokteran Gigi > Pendidikan Kedokteran Gigi
Depositing User: Ni Kadek Gandarini
Date Deposited: 30 Sep 2026 04:03
Last Modified: 30 Sep 2026 04:03
URI: http://eprints.unmas.ac.id/id/eprint/8986

Actions (login required)

View Item
View Item